Monday, October 26, 2009

Awas Bahaya Deodoran, Pengharum Ruangan, Lilin & Cat!




Seperti yang dilansir Harian Inggris Telegraph, Sabtu (22/11/2008), Daniel Hurley (12 tahun) pingsan tidak berdaya di kamar mandi rumahnya. Setelah lima hari dirawat di rumah sakit, akhirnya dia meninggal. Dan menurut Ayahnya, Robert, kejadian pingsan itu pernah terjadi tiga pekan sebelum kematiannya.

Rupanya industri kosmetik berhasil membuai bocah malang ini untuk menggunakan deodoran agar tubuh terbebas dari bau badan. Sayangnya, dia terlalu banyak dan sering menyemprotkan deodoran hingga baunya menyesakkan ruangan, termasuk jantungnya sendiri.


Selaras dengan hasil penyidikan bahwa Daniel tewas akibat kondisi ritme jantung abnormal (Cardiac Arrhythmia), karena bahan pelarut dalam pewangi.

Waduh, serem juga ya side effect dari deodoran! Ayo, cari tahu produk apa saja yang bisa menyebabkan potensi kanker, sang pembawa maut!

  • Deodoran dan Antiperspirant

Setelah beraktivitas seharian, bau badan alias BB pun menyeruak akibat keringat yang tercemar bakteri. Uh... menyebalkan! Nah, cara singkat menyingkirkan BB, ya lewat pemakaian deodoran dan anti-perspirant.

Deodoran ini bertugas menekan pertumbuhan bakteri di permukaan kulit, utamanya ketiak. Biasanya, deodoran mengandung antiseptik yang membunuh bakteri dan tergolong aman.

Anti-perspirant menghambat pembuangan keringat melalui pori-pori, utamanya ketiak. Hasilnya, ketiak terasa kering dan nyaman. Dan jenis antiperspiran-lah yang membahayakan karena banyak mengandung "ramuan" kimia.

Untuk menyisati agar produk aman, seringkali anti-perspirant diberi nama deodoran anti-perspirant.

Ternyata, penggunaan deodoran yang mengandung antiperspirant dan tentu saja anti-perspirant sendiri, berpotensi menyebabkan penurunan fungsi syaraf otak (Alzheimer) dan kanker payudara! Dan "ramuan" berbahaya itu, antara lain:
  • Alumunium
Alumunium yang terkandung dalam antiperspirant dan deodoran yaitu alumunium klorida atau sulfat. Penelitian Dr Chris Exley, saintis dari Universitas Keele, Inggris menyebutkan bahwa alumunium bersifat karsinogenik. Pada biopsi payudara, terlihat pula adanya indikasi alumunium.

Sejalan dengan itu, WHO pun menemukan tingginya konsentrasi alumunium pada otak penderita Alzheimer, meski jarang terjadi.
  •  Propilen Glikol

Zat ini memiliki sifat neurotoksin. Bisa menyebabkan terjadinya dematitis, serta kerusakan ginjal dan hati.
  •  Mineral Oil

Berfungsi menutupi pori-pori kulit. Alhasil, proses penguapan tubuh serta detoksifikasi melalui keringat pun terganggu.
  •  Parabens

Adalah zat tambahan. Aktivitasnya mirip kerja estrogen, sehingga mengganggu fungsi hormon dalam tubuh. Zat ini  pernah ditemukan pada penderita kanker payudara yang letaknya berdekatan dengan ketiak.

  • Air Fresheners

"Ih?bau terasinya, ampun deh. Bikin sesak hidung nih!" keluh Dina. Lalu, dia pun menyemprotkan pewangi ruangan berbau rose. Wah...serasa di taman bunga. Memang, hidung boleh saja dimanjakan dengan aroma menyejukkan, perhatikan pula efek sampingnya! Terlalu banyak semprat-semprot bisa menimbulkan gangguan sistem syaraf, seperti gangguan pernapasan, hingga pingsan.

Karena itu, Moms musti jeli dalam memilih pewangi. Nah, pewangi yang sering beredar dipasaran, jenis zat pewanginya berbahan dasar air dan minyak.

Pewangi berbahan dasar air, biasanya, kestabilan aromanya singkat, sekitar 3-5 jam dan terbilang aman.

Sedangkan pewangi berbahan dasar minyak, selain harganya mahal, juga mengandung zat kimia, seperti isobutane, n-butane, propane dan campurannya.

Untuk amannya, ikuti saja aturan The International Fragrance Association (IFRA), yakni melarang penggunaan pewangi yang mengandung musk, ambrette, geranyl nitrile, dan 7-methyl coumarin, serta pelarangan penggunaan jel yang mengandung formaldehyde dan methylchloroisothiozilinone. 

Rupanya, pewangi ruangan tidak hanya merugikan manusia, tetapi juga lapisan ozon! Anda cinta lingkungan? Pakai saja pewangi yang asalnya dari kekayaan alam, seperti:

- Bukalah jendela.
- Rajinlah membakar sampah.
- Gunakan daun teh untuk menyegarkan rumah.
- Taruhlah tanaman di dalam rumah untuk menghilangkan karbondioksida dan toksin lainnya.
- Gunakan parfum alami, kayu manis, jahe, misalnya.

  • Lilin




Dalam redupnya malam terasa romantis dengan hadirnya lilin. Namun, siapa sangka kalau bahan pembuat lilin, yaitu parafin, menyebabkan polusi udara dan bersifat karsiogenik. Utamanya lilin gel. Agar aman bagi tubuh dan lingkungan, pilih lilin berbahan kedelai atau lebah.

  • Cat Tembok

Saat mengecat rumah, terciumlah bau menyengat, karena di dalam cat mengandung bahan berbahaya bernama VOC (Volatile Organic Compound), misalnya solvent dan timbal, serta merkuri.

Solvent ini fungsinya membuat cat mudah diaduk, mudah digunakan dan cepat kering. Biasanya, setelah solvent menguap, barulah cat mengering. Nah, saat penguapan terjadi, uap solvent menyebar ke seluruh ruangan dan bisa mencemari lingkungan. Bahkan, turut pula menganggu kesehatan bila terhirup  berlebihan.

Bila gangguannya ringan bisa menyebabkan mata pedas, kulit perih, gangguan pernapasan atau alergi. Tapi, bila menghirupnya dalam jangka panjang menimbulkan kanker, kerusakan hati dan gangguan sistem pernapasan.

Begitu pula, timbal dan merkuri - menghasilkan warna cat - menimbulkan gangguan sistem syaraf, organ reproduksi, otak serta ginjal.

Lalu, bagaimana menyiasatinya? Ikuti tip berikut!

* Gunakan masker
* Pakailah sarung tangan
* Kenakan pelindung mata
* Pastikan ventilasi cukup

  • Penggunaan Dry Cleaning

Ingin semua perlengkapan berbahan tekstil, pakaian, tas, bed cover, karpet, bersih? Dry Cleaning saja! Tapi, sadarkah Moms bila bahan kimia, seperti solvent digunakan dalam proses dry cleaning. Yang musti diwaspadai adalah perchloroethylene (PERC) yang bersumber dari solvent itu sendiri.

Rupanya, penggunaan PERC ini berpotensi bahaya. Dalam jangka pendek, PERC bisa merusak sistem syaraf, pusing, hingga pingsan.

Bila PERC itu terhirup terlalu lama bisa menimbulkan kerusakan hati dan ginjal. Pun dry cleaning ini sebabkan kanker akibat sisa PERC yang masih menempel di pori-pori baju.

Selain itu, PERC tidak ramah lingkungan karena tidak bisa larut dalam tanah. Dan dalam jumlah besar, PERC bisa menembus lapisan tanah dan mengontaminasi air tanah. Alhasil, air pun teracuni PERC!

so.. back to nature my friend :)

No comments:

Post a Comment