Sunday, March 20, 2011

Super Moon (Bulan Terbesar Diera Modern)

http://elhusni.com/images/article/bulan-1.jpg

http://www.koleksiweb.com/imgfiles/images/2801306322.jpg

http://masihangat.files.wordpress.com/2011/03/supermoon.jpg

http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2011/03/springneaptides1.jpg

http://www.cjdw.net/wp-content/uploads/2011/03/supermoon.jpg

http://www.mesa.edu.au/friends/seashores/images/tides.gif

http://1.bp.blogspot.com/_IN5yHOI129g/S2LSF6QF7FI/AAAAAAAAAI0/AHd5Y4C7TKo/s400/plntmoon-300x196.jpg

http://totopribadi.files.wordpress.com/2009/12/planet-02b1.jpg

http://spektrumku.files.wordpress.com/2008/05/moonphase.jpg
Malam ini adalah malam yang sangat bersejarah dimana Bumi dan Bulan sangat dekat. Jarak paling dekat selama 18 tahun.
Sabtu, 19 Maret 2011, 16:47 WIB

Malam ini, Sabtu 19 Maret 2011, sebuah fenomena antariksa menarik akan terjadi. Bulan akan berada dalam jarak terdekatnya dengan Bumi dalam kurun waktu 18 tahun. Bulan hanya akan berjarak 221.567 mil atau 356.578 kilometer.

Fenomena ini disebut sebagai lunar perigee atau 'supermoon'. Sejumlah kalangan mengaitkan fenomena ini dengan bencana alam seperti Gempa dan Tsunami di Jepang. Tapi Badan Antarika Amerika Serikat (NASA) sudah menekankan bahwa ini tak ada kaitannya dengan bencana, khususnya gempa 9,0 skala Richter dan tsunami yang meluluhlantakkan wilayah Jepang.

Meski demikian, bukan berarti supermoon tak ada kaitannya dengan Bumi. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Maritim, Tanjung Perak Surabaya memperingatkan, munculnya supermoon bisa berakibat banjir rob di sejumlah daratan.

Supermoon berpengaruh pada pasang surut air laut, namun kondisi itu tidak menyebabkan tinggi gelombang di lautan.

Dari catatan BMKG Maritim Perak, ada beberapa kawasan di Surabaya yang mengalami pasang surut air laut akibat supermoon. Misalnya, kawasan Surabaya Timur, mulai Kenjeran, Gedangan Sidoarjo hingga Pasuruan ketinggian pasang air mencapai 110 hingga 130 cm diatas Mean Sea Level (MSL) atau diatas permukaan laut.

"Karena, posisi air laut pasang di saat jarak terdekat antara bulan dengan bumi itu mencapai ketinggian maksimum," kata Kasi Observasi dan Informasi BMKG Maritim Perak, M Effendi, Sabtu 19 Maret 2011.

Sementara, di empat kawasan di Surabaya dan Gresik ketinggian pasang air laut jauh lebih rendah dibanding kawasan Surabaya Timur. Data yang ada di BMKG Maritim Perak, kawasan Surabaya khususnya kawasan tengah, utara dan barat akibat ketinggian air pasang laut bisa menyebabkan banjir rob di ketinggian antara 90-100 cm MSL.

"Tapi, masyarakat tidak perlu cemas dan panik. Karena itu hal biasa dalam fenomena alam dan tidak ada pengaruhnya dengan cuaca. Air pasang maksimum ini terjadi di bulan Maret tahun ini," lanjut Effendi.

Terpisah, BMKG Juanda Surabaya memastikan tidak akan ada perubahan secara mendasar terhadap cuaca terkait munculnya fenomena supermoon. Ditegaskan, dampak alam yang timbul hanya kondisi pasang surut air laut.

"Yang pengaruh cuma pasang surut air laut," kata prakirawan BMKG Juanda, Ari Pulung.BMKG Juanda menambahkan, munculnya fenomena kedekatan jarak bulan dengan bumi itu tidak berpengaruh terhadap kondisi cuaca di Indonesia. Diperkirakan, dua hari kedepan kondisi cuaca cerah dan berawan. Intensitas hujannya ringan hingga sedang dan hujan diperkirakan berlangsung pada sore hingga malam hari.

Gempa Jepang Akibat Fenomena Supermoon?
Supermoon akan mencapai puncaknya pada tanggal 19 Maret 2011.

Gempa dan tsunami besar yang melanda Jepang, Jumat 11 Maret 2011 kemarin, disebut-sebut berhubungan dengan fenomena ‘supermoon’ atau ‘lunar perigee,’ yaitu fenomena mendekatnya bulan ke bumi yang sedang terjadi saat ini.

Isu supermoon akhir-akhir ini mengemuka di sejumlah media internasional. Sejumlah kalangan meyakini bahwa fenomena ini mengakibatkan bencana alam hebat seperti gempa bumi dan letusan gunung berapi. Gempa bumi 8,9 Skala Ritcher dan tsunami 13 kaki yang menghantam Jepang kemarin, seperti mengkonfirmasi teori supermoon ini.

Namun, hal itu dibantah oleh pakar gempa dari Pusat penelitian Geoteknologi LIPI, Danny Hilman Natawidjaja. Menurutnya, supermoon bukan penyebab utama terjadinya gempa bumi di Jepang. Danny menegaskan, kaitan antara supermoon dan bencana alam tidak memiliki dasar ilmiah.

“Masih banyak unsur mistiknya daripada ilmiahnya. Kita masih perlu melakukan peninjauan yang lebih ilmiah mengenai hal itu,” kata Danny ketika dihubungi VIVAnews, Sabtu 12 Maret 2011.

Namun, Danny mengakui gejala supermoon memang bukan berarti harus diabaikan sama sekali. Hal itu masih cukup penting untuk diperhatikan, dalam artian kajian ilmiah lebih lanjut penting untuk dilakukan.

“Kita harus menggunakan penelitian ilmiah sebagai patokan. Jangan berpatokan pada mitos-mitos atau hal-hal yang sifatnya mungkin kebetulan,” ujarnya.

Ia menekankan, imajinasi dan asumsi tidak berlaku dalam ilmu pengetahuan. Supermoon sendiri akan mencapai puncaknya pada tanggal 19 Maret 2011 mendatang.

Saat itu, bulan akan berada dalam jarak terdekatnya dengan bumi dalam kurun waktu 18 tahun terakhir. Lantas, apakah akan terjadi bencana lebih besar pada tanggal 19 Maret yang jatuh pada hari Sabtu pekan depan? Danny mengingatkan, jangan berspekulasi dan berasumsi.


Asteroid Seukuran Rumah Lintasi Bumi
Astronom terus memonitor langit untuk menemukan objek yang berpotensi menabrak Bumi.
Kamis, 17 Maret 2011, 11:49 WIB

Sebuah asteroid dengan ukuran kurang lebih sebesar rumah melintasi Bumi pada 16 Maret 2011, pukul 21.49 GMT. Menurut NASA, asteroid itu melintas hanya satu hari setelah terdeteksi sedang bergerak mendekati planet Bumi.

Untungnya, asteroid kecil bernama 2011 EB74 itu hanya memiliki ukuran panjang sekitar 14 meter dan tidak berpotensi untuk menabrak Bumi. Sebab, ukuran asteroid itu membuatnya tidak akan mampu menembus atmosfir dan akan habis terbakar sebelum jatuh di permukaan Bumi.

Asteroid itu juga hanya melintas dengan jarak yang aman yakni sekitar 203 ribu mil atau 326.696 kilometer saat berada di posisi terdekatnya dengan Bumi. Sebagai gambaran, jarak rata-rata Bumi dengan bulan mencapai 238 ribu mil atau 382.900 kilometer.

Astronom menemukan asteroid ini saat menjalankan proyek Catalina Sky Survey, sebuah proyek yang digagas oleh University of Arizona untuk mencari objek tak dikenal yang berada di dekat Bumi seperti asteroid dan komet.

“Dengan ukuran hanya 14 meter, 2011 EB74 tidak masuk dalam kategori asteroid berbahaya,” kata juru bicara Asteroid Watch, seperti dikutip dari Space, Kamis 17 Maret 2011. “Asteroid ini juga sulit dilihat oleh pengamat kecuali jika mereka merupakan astronom dan memiliki peralatan pemantau yang tepat.”

Temuan terakhir asteroid yang melintasi Bumi melengkapi temuan-temuan sebelumnya, di mana sebongkah batu luar angkasa nyaris bersinggungan dengan Bumi. Seperti diketahui, 14 Februari lalu, sebuah asteroid berukuran sebesar mobil “menyerempet” planet Bumi.

Sebelumnya, sebuah batu kecil memecahkan rekor sebagai objek luar angkasa yang melintas paling dekat dengan Bumi tanpa masuk ke atmosfir. Ia melintas pada jarak hanya 3.400 mil atau 5.471 kilometer dari Bumi pada 4 Februari lalu.

Rekor jumlah asteroid terbanyak yang melintas dalam waktu yang berdekatan adalah pada 29 Januari 2011. Pada malam itu, mendadak ada 19 asteroid melintas dekat planet Bumi.

Saat ini, astronom NASA dan ilmuwan lain secara rutin memonitor langit untuk menemukan asteroid atau komet lain yang bergerak melintas atau berpotensi menabrak Bumi.


Supermoon 19 Maret Picu Bencana Besar?
Pada 19 Maret 2011 bulan berada dalam jarak terdekatnya dengan bumi, dalam waktu 18 tahun.

Sabtu pekan depan, 19 Maret 2011, bulan akan berada dalam jarak terdekatnya dengan bumi dalam kurun waktu 18 tahun terakhir--hanya sekitar 221.567 mil atau 356.578 kilometer. Fenomena mendekatnya bulan ke bumi itu disebut 'lunar perigee'. Tapi ada juga astrolog yang menyebutnya 'supermoon'.

Di sejumlah media terkemuka internasional, isu supermoon kini mengemuka. Apalagi, fenomena itu dikait-kaitkan dengan ancaman sejumlah bencana seperti gelombang pasang, letusan gunung berapi, bahkan gempa bumi.

Para penganut teori konspirasi bahkan mengatakan, tsunami Aceh 2004 yang merenggut lebih dari 200 ribu nyawa terjadi dua minggu sebelum supermoon 2005. Begitu juga dengan bencana angin siklon Tracy yang menyapu Darwin Australia di tahun 1974.

Benarkah supermoon akan membawa bencana bagi bumi?

"Kabar menghebohkan itu tidak ilmiah, ada bumbu-bumbunya. Supermoon tidak berarti bencana," kata astronom Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, kepada VIVAnews.com.

Posisi bulan mendekati bumi, tambah dia, hanya akan berpengaruh pada efek pasang surut. "Rata-rata maksimal tergantung kondisi pantainya."

Dijelaskan Thomas, fenomena lunar perigee bukanlah hal yang istimewa. "Itu hanya posisi reguler. Orbit benda langit memang ada di jarak terdekat (perigee) dan terjauh (apogee)," tambah dia.

Namun, Thomas juga mengakui fenomena yang akan terjadi seminggu lagi itu tak biasa. "Istimewanya, kebetulan waktunya dekat dengan bulan purnama," kata Thomas. Dijelaskan pada 19 Maret, fenomena lunar perigee yang memiliki siklus sekitar 27,3 hari terjadi bersamaan dengan bulan purnama yang muncul tiap 29 hari.

Selama terjadi lunar perigee dan purnama, permukaan bulan akan tampak 14 persen lebih besar dan 30 persen lebih terang dari bulan purnama.

Pendapat Thomas senada dengan para astronom lainnya. Pete Wheeler dari International Centre for Radio Astronomy juga membantah anggapan bahwa supermoon bakal membawa bencana. "Tak akan ada gempa bumi atau gunung meletus," kata dia seperti dimuat News.com.au, Jumat, 4 Maret 2011. "Kalau memang itu terjadi, itu sudah ditakdirkan."

Kata dia, saat itu bumi memang akan mengalami pasang lebih tinggi dan surut lebih rendah dari biasanya. "Tak ada yang perlu dikhawatirkan," tambah Wheeler.

Sementara itu, pakar bumi dan planet dari Adelaide University, Dr. Victor Gostin punya pendapat agak berbeda. Dia mengatakan, selama ini prediksi cuaca, gempa, gunung meletus, dan bencana alam lainnya berdasarkan konfigurasi planet tidak pernah akurat sepenuhnya. Namun, menurut dia dimungkinkan ada suatu korelasi antara gempa bumi berskala besar di dekat katulistiwa dan kondisi bulan. "Analoginya seperti pasang surut air laut, pergerakan bumi akibat gravitasi bulan bisa memicu gempa bumi yang sering terjadi akhir akhir diera modern ini.

No comments:

Post a Comment